Empowerment, Stress, Konflik & Komunikasi dalam Manajemen

Januari 16, 2017

1. Empowerment, Stress & Konflik

A. Pengertian Empowerment
   Menurut Pearce & Robinson (2008) Empowerment (pemberdayaan) adalah tindakan yang memberikan seorang individu atau tim hak dan fleksibilitas untuk membuat keputusan dan melaksanakan tindakan. 
Pemberdayaan berarti menyediakan sumber daya, pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat untuk meningkatkan kemampuan mereka (capacity) untuk menentukan masa depan mereka, dan untuk berpartisipasi dan mengubah kehidupan masyarakat mereka (Jim Ife dalam Halim Malik). Sedangkan menurut Suhendra (2006: 74-75) pemberdayaan adalah suatu kegiatan yang berkesinambungan, dinamis, secara sinergis mendorong keterlibatan semua potensi yang ada secara evolutif dengan keterlibatan semua potensi.
           
B. Pengertian Stress
   Siagian (2003 : 300) mengemukakan bahwa stress merupakan kondisi ketegangan yang berpengaruh terhadap emosi, jalan pikiran dan kondisi fisik seseorang. 
Sedangkan menurut Hasibuan H. Malayu S. P. (2003) stress adalah suatu kondisi ketegangan yang emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang. Stress juga merupakan suatu kondisi yang dinamis ketika individu dihadapkan peluang, tuntutan, atau sumber daya yang terkait dengan apa yang dihasratkan oleh individu itu dan yang hasilnya dipandang tidak pasti dan penting (Schuler, 2002).  
     - Sumber Stress

    Seperti masalah yang lainnya, sumber-sumber stress juga didapat dari faktor internal dan eksternal. 
      Faktor internal meliputi penyakit yang diderita, konflik yang sedang dihadapi, frustasi, krisis, tekanan. Sedangkan faktor eksternal meliputi  keluarga, interaksi dalam komunitas dan lingkungan, hubungan interpersonal keuangan, hukum, perkembangan, dan lain-lain (seperti bencana alam).

C. Pengertian Konflik
      Menurut Soerjono Soekanto dalam rangka mencapai tujuan, setiap individu atau kelompok akan menggunakan segala cara termasuk ancaman atau kekerasan sebagai bentuk pertentangan terhadap lawannya. Proses inilah yang disebut konflik.
R. E. Park memandang konflik sebagai salah satu bentuk interaksi. Begitupula menurut Taman dan Burgess (1921), mereka memandang konflik adalah sebuah perlombaan dimana terjadi kontak sebagai kondisi yang sangat diperlukan. 
Sedangkan menurut A. W. Hijau (1956) konflik didefinisikan sebagai upaya yang disengaja untuk melawan atau memaksa kehendak lain atau orang lain. Sebagai sebuah proses, konflik adalah kebalikan dari kerjasama dimana usaha sengaja dilakukan untuk menggagalkan kehendak orang lain.

     - Jenis-jenis Konflik

        Menurut Mastenbroek (dalam Sopiah, 2008) ada 4 jenis konflik, yaitu :
a. Instrumental Conflicts 
   Terjadi karena ketidak sepahaman antar komponen dalam organisasi dan proses pengoperasiannya.
b. Socio-emotional Conflicts
 Berkaitan dengan masalah identitas, kandungan emosi, citra diri, prasangka, kepercayaan, keterikatan, identifikasi terhadap kelompok, lembaga dan lambang-lambang tertentu, sistem nilai dan reaksi individu dengan yang lainnya.
c. Negotiating Conflicts
   Adalah ketegangan yang dirasakan pada waktu proses negosiasi terjadi, baik antara individu dengan individu maupun antara kelompok.
d. Power and Dependency Conflicts
  Berkaitan dengan persaingan dalam organisasi, Contoh : Pengamanan dan penguatan kedudukan yang strategis.

     - Proses-proses Konflik

      Ada beberapa ahli yang menjelaskan bagaimana proses terjadinya konflik. Namun kali ini saya akan menjelaskan dari salah satu ahli. Menurut Smith (dalam Sopiah, 2008) proses terjadinya konfllik yaitu :
a. Tahap Antisipasi
   Merasakan munculnya gejala perubahan yang mencurigakan.
b. Tahap Menyadari
   Perubahan mulai dieksepsikan dalam bentuk suasana yang tidak menyenangkan.
c. Tahap Pembicaraan
   Pendapat berbeda mulai bermunculan.
d. Tahap Perdebatan Terbuka
   Perbedaan pendapat mulai ditunjukkan dengan nyata dan terbuka.
e. Tahap Konflik Terbuka
   Masing-masing pihak berusaha memaksakan kehendaknya kepada pihak lain.

D. Kasus yang Berkaitan dengan Konflik dan Stress

Kasus 1
TRIBUN-BALI.COM - Menurut sebuah studi, bunuh diri telah menelan 1 juta korban setiap tahun. Angka tersebut terus menanjak dari waktu ke waktu.
Para peneliti di Bureo of Labor Statistic’s Census of Fatal Occupational Injury melaporkan sebanyak 1700 peristiwa bunuh diri terjadi di tempat kerja atau kantor.
Laporan ini berasal dari data tahun 2003 hingga 2010. Selain itu, studi mengimbuhkan bahwa potensi karyawan pria bunuh diri 15 kali lebih tinggi ketimbang karyawan wanita.
Menurut investigasi lebih rinci, para korban bunuh diri mengalami kelelahan dan stres kerja yang berkepanjangan. Kondisi ini tentunya sangat mengkhawatirkan.
Rasanya, sudah saatnya perusahaan besar atau kecil yang ada di dunia memperbaiki manajemen waktu dan jumlah pekerjaan yang diberikan pada karyawan. Sebab, tanggung jawab berlebih pada karyawan bisa mengakibatkan mereka merasa tertekan hingga berujung pada depresi.
Salah satu ketua peneliti bernama Hope Tiesman, Ph.D, Epidomologist, National Institue for Occupational Safety and Health, menyarankan agar perusahaan terutama divisi SDM mulai menyadari bahwa kesehatan dan keseimbangan mental karyawan bukanlah persoalan pribadi, melainkan gangguan yang harus disikapi layaknya kesehatan secara fisik.
“Urusan kondisi mental karyawan tidak bisa dianggap enteng. Sebab, itu berkaitan dengan kinerja mereka sekaligus kesehatan secara menyeluruh. Jika perusahaan tak juga menyikapinya dengan serius, imbasnya pada korban bunuh diri di kantor yang terus meningkat,” ujar Tiesman.
Tingkat stres dan tekanan berlanjut yang dirasakan karyawan, kata Tiesman, lebih kurang sama dengan kondisi mental pengangguran yang lelah tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Namun, jumlah dan peristiwa bunuh diri yang terjadi di kantor biasanya ditutup-tutupi sehingga tidak terdokumentasi secara resmi oleh pihak berwajib.
“Batasan antara isu personal dan persoalan yang dihadapi karyawan di kantor, sekarang ini benar-benar tipis. Memang benar bahwa pemicu orang untuk bunuh diri sangat beragam. Namun, tidak ada salahnya pihak kantor menyediakan terapis atau orang berkeahlian khusus sebagai tempat konsultasi karyawan,” urainya.
Studi menunjukkan bahwa perusahaan dan kantor yang bergelut di bidang hukum, pertanian, kesehatan, dan angkatan bersenjata, merupakan industri dengan jumlah korban karyawan bunuh diri paling tinggi.
Tiesman menyarankan, selain pihak perusahaan, para psikolog dan dokter juga sudah harus menengok serta melakukan penelitian tentang atmosfir perusahaan, jenis industri, dan jabatan yang berpeluang membuat karyawan mengalami stres dan berpotensi menyebabkan karyawan bunuh diri. (kompas.com)

Solusi :
Sebenarnya solusi dari kasus diatas sudah terdapat pada artikel terkait dan sudah dituliskan secara jelas. Perusahaan-perusahaan besar sebaiknya tidak terlalu memforsis tenaga para karyawannya sehingga kinerja para karyawan pun menjadi maksimal. Perusahaan juga seharusnya menyediakan dokter atau terapis pribadi untuk mengawasi kondisi para karyawannya baik secara fisik dan mental.   
Kasus 2
Kaliandanews.com, Lampung Selatan - Keributan dua Desa di Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, antara Desa Kunjir dan Desa Waymuli, Selasa (20/09), malam, mengakibatkan 5 rumah dan 4 warung mengalami kerusakan. Kerusakan diakibatkan oleh lemparan batu dan kayu.
Menurut kepala Desa Waymuli, Zamra Gozali, kejadian dipicu akibat pertikaian dua kelompok pemuda beberapa hari lalu, yang mengakibatkan seorang warga Kunjir mengalami luka di kepala.
"Warga Kunjir menuntut pihak Waymuli Induk untuk menyerahkan pelaku yaitu Asep dan Misja. Karena polisi sudah dua kali coba nangkep tapi gak berhasil," kata Zamra, Rabu (21/09).
Kepala BPDB M. Darmawan mengungkapkan, pihaknya akan segera mendata jumlah kerusakan rumah warga untuk dilakukan upaya perbaikan.
"Sekarang kita lagi mendata rumah mana saja yang rusak, dan kita ajuin bantuannya ke Bupati Lamsel, agar dapat segera dipulihkan rumah warga yang rusak," ungkapnya.
"Total kerugian sekitar 20juta, dan secepatnya data akan kita sampaikan ke Bupati, dan akan segera kita salurkan ke masyarakat," pungkas Darmawan.
Sementara camat Rajabasa, Sabilal mengatakan "Kita akan melakukan upaya agar kejadian ini tidak meluas lagi, sehingga masyarakat yang tidak tau apa-apa tidak menjadi korban," katanya.
Sabilal juga akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk segera menangkap pelaku terkait kejadian tersebut.
"Kami berharap pihak kepolisian segera menangkap pelaku, dan pemerintah daerah bisa memberikn bantuan kepada rumah-rumah warga yang terkena dampak kejadian tersebut," lanjut Sabilal.
Pihak kepolisian terus melakukan penjagaan agar tidak terjadi bentrokan susulan antar ke dua desa. "Kami lakukan penjagaan yang bersifat antisipasi agar tidak terjadi susulan. Akan kami jaga sampai keadaan lebih kondusif," ucap Kasat Sabara Polres Lamsel AKP Subandi.
Kejadian ini menyisakan trauma bagi Aminah (45), warga Waymuli Timur yang tidak tau apa-apa tetapi terkena dampak keributan tadi malam. "Semalem kita lagi didalem rumah, sama anak-anak, tiba"-tiba rumah kita di lemaparin batu pak. Itu batunya gede-gede. Anak-anak pada takut sekarang lagi ngungsi dirumah pamannya," ucap Aminah. (yb)

Solusi :
Saat suatu konflik terjadi selalu ada suatu hal yang melatarbelakangi konflik tersebut. Sebelum menghakimi ada baiknya kita mencari tahu terlebih dahulu apa yang menyebabkan konflik bisa terjadi. Pertikaian sehingga berujung kepada tawuran seperti ini hanya akan menambah rumit permasalahan, terlebih lagi menyangkut dua desa. Banyak warga desa yang akan menjadi korban.
Karena ini menyangkut dua desa, seharusnya para petinggi desa dan juga orang-orang yang bertikai berunding dan mencari titik temu dan jalan keluar yang lebih baik, bukannya malah melakukan suatu hal yang tidak bisa diharapkan seperti tawuran.

Kasus 3
Radarbanyumas.co.id, PURBALINGGA – Suyatno (37) yang diduga depresi, harus berurusan dengan polisi. Warga Desa Gembong, Kecamatan Bojongsari ini diamankan warga dan polisi. Pasalnya, dia mencoba membakar rumah milik kerabatnya, Kirwan (35) pada Jumat (13/1) petang kemarin. Akibat perbuatanya, kursi, meja, pakaian dan bahan jahitan pakaian di rumah Kirwan ludes terbakar. Beruntung api bisa dipadamkan dengan bantuan warga sekitar. Namun akibat kejadian tersebut, Kirwan mengalami kerugian mencapai Rp 10 juta. Kapolsek Bojongsari AKP Tri Arjo Irianto mengatakan, setelah mendapat laporan dari warga, dia langsung mendatangi lokasi kejadian. Kemudian anggotanya dan warga mengamankan pelaku. “Diduga karena depresi, pelaku mengamuk dan melakukan pembakaran. Untung saja api tidak sampai membakar hangus seluruh rumah. Ini berkat kesigapan warga membantu memadamkan api,” kata Kapolsek. Usai diamankan, polisi melalui koordinasi dengan pihak keluarga menyepakati mengirim pelaku ke Rumah Sakit Banyumas untuk menjalani pengobatan. Kasus ini sementara masih ditangani polisi dengan mendata semua saksi dan kerugian. (amr/sus).

Solusi :
Ini merupaka berita baru hari ini yang terjadi di Banyumas. Penyelidikan masih berjalan sehingga kita hanya mendapat garis besar perihal peristiwa tersebut. Pelaku diduga mengalami depresi sehingga nekat membakar rumah milik kerabatnya. Hingga saat ini kita tidak dapat menyimpulkan apakah depresi yang dialami pelaku berkaitan atau tidak.
Sebagai kerabat dan keluarganya, seharusnya bisa mendukung pelaku dan selalu ada di sisi pelaku. Jika hal yang dilakukan pelaku salah maka baiknya menasihati dengan perlahan. Jangan membebaninya dan malah membuatnya merasa bersalah, depresi dan stress.


2. Komunikasi dalam Manajemen

A. Pengertian Komunikasi
     Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain dimana pada umumnya komunikasi dilakukan secara verbal / lisan dan atau non-verbal.
Menurut Brent dan Stewart, komunikasi adalah suatu proses dimana seseorang atau beberapa orang, kelompok, organisasi dan masyarakat menciptakan dan menggunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain.
James A. F. Stoner mendefinisikan komunikasi sebagai proses dimana seseorang berusaha memberikan pengertian dengan cara pemindahan pesan.

B. Proses Komunikasi

Tahapan komunikasi terbagi menjadi 7 tahap, yaitu :
1. Penginterpretasian
   Ini berlangsung sejak motif komunikasi muncul hingga komunikator mampu menginterpretasikan pikiran dan perasaannya ke dalam sebuah pesan yang masih abstrak.
2. Penyandian
   Tahap ini masih berlangsung dalam diri komunikator. Pada proses komunikasi ini, pesan abstrak yang diciptakan dalam tahap sebelumnya berhasil diwujudkan oleh komunikator dalam lambang komunikasi melalui proses encoding.
3. Pengiriman
   Terjadi ketika komunikator mengirimkan pesannya kepada komunikan. Komunikator mengirimkan lambang komunikasi melalui transmitter (dapat berupa apapun) sebagai alat pengirim pesan.
4. Perjalanan
  Terjadi antara komunikator dan komunikan, tepatnya sejak pesan dikirim hingga diterima oleh komunikan. 
5. Penerimaan
  Proses ini terjadi ketika lambang komunikasi yang dikirimkan telah diterima oleh komunikan. Penerimaan melalui receiver berupa peralatan jasmaniah komunikan.
6. Penyandian balik
   Terjadi di dalam diri komunikan, yakni sejak lambang diterima oleh receiver hingga pesan tersebut diolah dan diuraikan dalam diri komunikan (decoding). 
7. Penginterpretasian
   Terjadi di dalam diri komunikan. Terjadi sejak lambang komunikasi berhasil diuraikan dalam bentuk pesan hingga menimbulkan feedback.

C. Hambatan Komunikasi
     Hambatan-hambatan yang sering terjadi dalam proses komunikasi antara lain :
1. Kebisingan
2. Keadaan psikologis komunikan
3. Kekurangan keterampilan komunikator/komunikan
4. Kesalahan penilaian oleh komunikan
5. Kurangnya pengetahuan komunikator/komunikan
6. Bahasa
7. Isi pesan berlebihan
8. Bersifat satu arah
9. Faktor teknis
10. Kepentingan
11. Prasangka
12. Cara penyajian terlal verbalik, dsb.

D. Pengertian Komunikasi Interpersonal Efektif dalam Organisasi 
      Menurut Devito (1989), komunikasi interpersonal adalah penyampaian pesan oleh satu orang serta penerimaan pesan oleh orang lain / sekelompok kecil orang dengan berbagai dampaknya serta dengan peluang untuk memberikan feedback segera.
Sedangkan menurut Mulyana, komunikasi interpersonal adalah komunikasi antar orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya akan menangkap reaksi orang lain secara langsung baik secara verbal atau non verbal. Komunikasi ini hanya terjadi pada dua orang. 

Adapun komunikasi interpersonal yang efektif dalam organisasi mencakup dua bagian yaitu :
1. Componential
   Menjelaskan komunikasi antar pribadi dengan dengan mengamati komponen utamanya (dalam hal ini adalah penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan feedback segera).
2. Situational 
   Interaksi tatap muka antara dua orang dengan potensi umpan balik langsung dengan situasi yang mendukung disekitarnya.

E. Model Pengolahan Informasi dalam Komunikasi 
1. Rational
   Orang-orang benar-benar memproses semua informasi yang tersedia dalam mencari solusi yang terbaik / output maksimum. Model ini memiliki perspektif kuat, tetapi akurasi deskriptif lemah.
2. Limited Capacity
   Model yang melemahkan kondisi model rasional dan mengasumsikan bahwa orang mempermudah pengolahan informasi dalam mencari solusi (tidak diperlukan secara optimal).
3. Expert
   Menempatkan penekanan pada pengetahuan mendalam yang sudah dikembangkan oleh ahli yang melengkapi pengolahan informasi yang telah disederhanakan.
4. Cybernatic
    Pengolahan informasi dapat diubah dengan umpan balik.

F. Model Interaktif Manajemen dalam Komunikasi
1. Confidence : Rasa nyaman menimbulkan kepercayaan dan rasa aman.
2. Immediacy : Membuat suatu organisasi menjadi segar dan tidak membosankan.
3. Interaction Management ; Adanya berbagai interakasi dalam suatu manajemen.
4. Expresiveness ; Mengembangkan komitmen dalam suatu organisasi dengan berbagai ekspresi & perilaku.
5. Other-orientation



Sumber :
- https://id.wikipedia.org/wiki/Stres
- https://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi
- http://www.kompasiana.com/unik/pemberdayaan-empowerment_550a56d2a33311971d2e394d
- http://www.materibelajar.id/2015/12/inilah-beberapa-definisi-pemberdayaan.html
- http://www.landasanteori.com/2015/07/pengertian-stres-jenis-proses-dan.html
- https://www.psikologiku.com/sumber-stres-internal-dan-eksternal-dalam-psikologi/
- http://www.gurupendidikan.com/14-pengertian-konflik-menurut-para-ahli-terlengkap/
- http://www.artikelsiana.com/2015/02/pengertian-komunikasi-tujuan-fungsi-manfaatnya.html
- http://www.gurupendidikan.com/pengertian-komunikasi-interpersonal-menurut-para-ahli/
- Pearce J. A. dan Robinson R. B.. 2008, Manajemen Strategis  Formulasi, Implementasi dan
  Pengendalian Edisi 10, Jakarta : Salemba Empat.
- Sopiah, 2008, Perilaku Organisasional, Yogyakarta : CV Andi Offset.
- Pawito dan Sardjono C., 1994, Teori-teori Komunikasi. Buku Pegangan Kuliah Fisipol Komunikasi Massa S1 Semester IV, Surakarta : Universitas Sebelas Maret.
- Vardiansyah, 2004, Pengantar Ilmu Komunikasi, Bogot : Ghalia Indonesia.

You Might Also Like

0 comments